Menu

Mode Gelap

Berita Indonesia · 22 Apr 2026 17:35 WIB ·

Satu Atap Belasan Nyawa: Nestapa Keluarga Yuliarti di Pringsewu Barat Terjepit Kemiskinan dan Birokrasi ‎


0-3968x2976-0-0-{}-0-24# Perbesar

0-3968x2976-0-0-{}-0-24#

PRINGSEWU – Di sebuah gang sempit di Pringsewu Barat, sebuah rumah petak milik orang tua Yuliarti Mentari menjadi saksi bisu betapa sesaknya hidup dalam kemiskinan. Rumah yang jauh dari kata layak itu kini dihuni oleh belasan jiwa; mulai dari Yuliarti bersama suami dan empat anaknya, hingga keluarga kakak dan adiknya. Mereka berbagi ruang, berbagi napas, dan kini berbagi penderitaan.

Kondisi ekonomi keluarga besar ini hampir seragam: pekerja serabutan. Tak ada sandaran ekonomi yang kokoh di antara mereka. Ketika satu keluarga tumbang, yang lain tak mampu menopang karena berada di jerat kesulitan yang sama.

Ujian kian berat saat sepuluh hari terakhir Tomas, suami Yuliarti, ambruk akibat serangan vertigo hebat. Sebagai tulang punggung yang mengandalkan tenaga fisik, sakitnya Tomas berarti terhentinya aliran rupiah bagi keempat anaknya.

Klik Gambar

Demi bertahan hidup, Yuliarti terpaksa menelan pil pahit. Modal kecil untuk berjualan cireng yang biasa ia putar habis digunakan untuk membeli beras. Kini, tanpa modal dan suami yang sakit, Yuliarti bersama anak-anaknya—termasuk yang masih duduk di bangku SMP dan SD—terpaksa mengandalkan nasi gratis dari program “Jumat Berkah” di mushola terdekat.

Baca Juga :   Jalan Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Pantura Gruduk Kantor Bupati Pringsewu

‎“Anak-anak sering membantu jualan cireng sepulang sekolah. Tapi sekarang modalnya sudah habis untuk makan karena suami tidak bisa bekerja,” tutur Yuliarti lirih, Rabu (22/4).

‎Kabar mengenai kondisi keluarga ini telah sampai ke telinga pemerintah setempat. Lurah Pringsewu Barat, Virgus, telah turun tangan melakukan penelusuran. Namun, ia menemukan kendala administratif yang pelik, data KTP dan KK Yuliarti masih tercatat di Tanjung Karang, sisa masa saat mereka mengadu nasib sebagai pengontrak di sana.

Baca Juga :   Belum Berumur Satu Bulan, Bangunan Irigasi Way Tebu di Pekon Sukawangi Jebol

“Tadi saya sudah menelepon bayan setempat juga, namun datanya masih di luar daerah. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan alamat KTP ke Kelurahan Pringsewu Barat agar bisa kami ajukan bantuan resmi,” ujar Virgus, Rabu (22/4).

Tinggal di rumah orang tua bersama keluarga besar lainnya membuat privasi menjadi barang mewah. Dalam satu peta rumah tersebut, belasan orang harus berbagi fasilitas yang sangat terbatas. Kepadatan ini tidak hanya mengancam kesehatan, terutama dengan kondisi Tomas yang sedang sakit, tetapi juga mengganggu ruang tumbuh kembang empat anak Yuliarti yang masih kecil.

Baca Juga :   Mutasi Pejabat di Pringsewu Picu Sorotan, ASN Pertanyakan Promosi Kilat Atika Kurniawati

Pribadi yang dihadapi Yuliarti bukan sekadar soal perut yang lapar, melainkan potret warga yang terjebak dalam siklus kemiskinan dan hambatan birokrasi. Sembari menunggu proses administrasi kependudukan rampung, keluarga ini sangat membutuhkan uluran tangan darurat untuk sekedar memastikan anak-anak mereka tidak melewatkan waktu makan hari ini. (*)

Facebook Comments Box

Artikel ini telah dibaca 137 kali

Baca Lainnya

Melalui Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Hilirisasi Jagung dan Pengembangan UMKM Pertanian 

22 Juli 2026 - 09:37 WIB

PMI Kabupaten Jember Bekali KSR Tata Kelola Logistik Yang Baik, Sebagai Tugas Kemanusiaan 

21 Juli 2026 - 12:59 WIB

Gus Fawait Tegaskan Dukungan Presiden untuk Petani dan UMKM : Festival Kemudahan Perlindungan Usaha Mikro di Jember 

21 Juli 2026 - 12:23 WIB

Festival Usaha Mikro 2026 Resmi di Gelar, PAC LSN dan PAC Srikandi Kecamatan Ajung ikut Promosikan Produk UMKM Lokal.

21 Juli 2026 - 11:45 WIB

Aksi Donor Darah Terbaru Berhasil Himpun 41 Kantong Darah, kecamatan Kalisat jadi Lumbung Pendorong

20 Juli 2026 - 20:03 WIB

Pendidikan Kunci Utama Tingkatkan SDM Sekaligus Memutus Mata Rantai Kemiskinan Menurut Bupati Jember Gus Fawaid 

20 Juli 2026 - 18:15 WIB

Trending di Berita Nasional