Menu

Mode Gelap

Berita Terkini · 30 Apr 2026 14:41 WIB ·

Saluran Irigasi Terkubur Lumpur, Aktivitas Tambang di Tambahrejo Disorot


Saluran Irigasi Terkubur Lumpur, Aktivitas Tambang di Tambahrejo Disorot Perbesar

Pringsewu (GS) — Derasnya aliran lumpur dari aktivitas tambang batu kini menjadi ancaman nyata bagi petani di Pekon Tambahrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Saluran irigasi yang seharusnya menjadi nadi kehidupan sawah, berubah menjadi jalur pembuangan limbah, memicu kekhawatiran serius jelang musim tanam.

Pantauan di lokasi menunjukkan endapan lumpur pekat mengalir hingga ke petak-petak sawah. Limbah tersebut diduga kuat berasal dari aktivitas pencucian batu milik CV. Central Adi Perkasa. Kondisi ini tak hanya mencemari aliran air, tetapi juga berpotensi merusak struktur tanah pertanian yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga.

Sugiyo, salah satu petani terdampak, menggambarkan situasi yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut saluran irigasi kini nyaris lumpuh.

Klik Gambar

“Lumpurnya sudah setinggi lutut di saluran. Air meluap ke sawah. Sekarang memang masih panen, tapi nanti kalau masuk musim tanam, air tidak akan mengalir. Irigasi sudah tertutup,” keluhnya, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga :   Kepala Kampung Argomulyo Kecamatan Banjit, Lantik Tujuh Orang Perangkat Kampung

Menurutnya, jika kondisi ini dibiarkan, petani bukan hanya kehilangan hasil panen, tapi juga menghadapi ancaman gagal tanam secara massal. Ia mendesak pihak perusahaan segera bertindak, bukan sekadar janji.

“Harus segera dibersihkan. Jangan cuma dibiarkan. Tambang juga wajib punya penampungan limbah yang layak, bukan asal buang,” tegas Sugiyo.

Di sisi lain, pihak perusahaan tak membantah. Direktur Operasional CV. Central Adi Perkasa, Abidin Absoul, mengakui bahwa luapan limbah memang berasal dari aktivitas mereka. Ia berdalih kapasitas penampungan yang ada tak lagi mampu menahan volume lumpur.

Baca Juga :   Pengurus PWRI Way Kanan Resmi Dikukuhkan

“Iya, kami akui. Penampungan yang ada sudah tidak kuat menampung,” ujarnya.

Abidin berjanji akan bertanggung jawab dengan membersihkan saluran irigasi dan membangun embung sebagai solusi jangka pendek. Namun, pernyataan itu memunculkan pertanyaan baru, mengapa perusahaan tetap beroperasi penuh sementara sistem pengelolaan limbahnya jelas tidak memadai.

Fakta di lapangan menunjukkan aliran limbah dari proses pencucian batu berlangsung dalam volume besar setiap hari. Sementara itu, tidak terlihat adanya sistem pengendalian yang mampu menahan atau mengolah limbah sebelum mengalir ke irigasi warga.

Baca Juga :   Lecehkan Profesi wartawan, Puluhan Wartawan Lampung Timur Akan Tempuh Jalur Hukum

Situasi ini menegaskan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas tambang yang bersinggungan langsung dengan sektor pertanian. Jika tak segera ditindak tegas, bukan tidak mungkin konflik antara petani dan perusahaan akan semakin memanas.

Kini, para petani hanya bisa berharap di tengah lumpur yang terus mengalir agar pemerintah tidak menutup mata, dan perusahaan benar-benar menepati janjinya, sebelum sawah-sawah mereka berubah dari ladang pangan menjadi kubangan limbah. (Tim/Red)

Facebook Comments Box

Artikel ini telah dibaca 46 kali

Baca Lainnya

Nekat Layani Suntik dan Obat-obatan, Mahasiswa di Pringsewu Diduga Praktik Tanpa Izin

19 Mei 2026 - 18:58 WIB

WALHI Lampung : Dugaan Pelanggaran Lingkungan di Tambahrejo Tak Bisa Dibiarkan

2 Mei 2026 - 21:02 WIB

Rapat Kordinasi, SMSI Tingkatkan Profesionalisme Perusahaan Media

1 Mei 2026 - 17:21 WIB

Menuju Generasi Emas 2045, Babinsa Kodim 0429/Lamtim All Out Dampingi Distribusi MBG

30 April 2026 - 15:07 WIB

Distribusi SPPT PBB 2026 Dimulai, Warga Lampung Timur Kini Bisa Bayar Pajak Lebih Mudah

30 April 2026 - 14:46 WIB

Bupati Lampung Timur Ajak Seluruh Elemen Berkolaborasi Aktif Di Media Sosial Kampaye Anti Norkoba

30 April 2026 - 14:32 WIB

Trending di Berita Terkini