Korwil Jatim Holiyadi
Jember, Gemasamudra.com – Satgas MBG Kabupaten Jember melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG Karangsono. Diduga menu telur puyuh menyebabkan ratusan siswa dan juga wali murid keracunan.
Ketua Harian Satgas MBG Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman, beserta Satgas MBG Kecamatan Bangsalsari dan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Kabupaten Jember mendatangi SPPG Karangsono, Kamis (16/7/2026).
Dikabarkan sehari sebelumnya, puluhan siswa TK dan SD di Desa Karangsono Kecamatan Bangsalsari mengalami gejala mual, mules, pusing bahkan kejang-kejang usai menyantap makanan dari menu SPPG Karangsono. Diduga mereka keracunan setelah makan menu MBG.
Sontak berita itu menjadi sorotan publik warga Jember, sehingga memaksa Satgas MBG Kabupaten Jember turun ke lapangan.
Dari hasil temuan Satgas MBG Kabupaten Jember, ada beberapa hal terungkap di SPPG Karangsono.
“Untuk SLHS sudah selesai tapi untuk IPAL masih dalam proses,” ujar Helmi sapaan Ketua Harian Satgas MBG Kabupaten Jember.
Meski demikian IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sudah terpasang dan berfungsi.

Hasil sidak, Satgas MBG Kabupaten Jember memutuskan menghentikan operasional SPPG Karangsono.
“Kita hentikan sampai pemeriksaan selesai,” tegas Helmi kepada beberapa awak media di depan kantor SPPG Karangsono.
Satgas menyatakan sampel makanan sedang diuji di laboratorium milik Pemkab Jember. Tujuannya mencari kebenaran dari menu mana penerima manfaat program MBG itu keracunan.
Usai sidak rombongan Satgas MBG Jember melanjutkan melihat kondisi siswa dan wali murid terdampak keracunan menu MBG di Puskesmas Sukorejo. Beberapa masih menjalani perawatan di kamar rawat inap. Bahkan ada yang dirawat di luar kamar karena kehabisan kamar.
Helmi berdialog dengan keluarga siswa sembari meminta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan itu. Atas nama Bupati Jember, Gus Fawait, Helmi menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemkab Jember.
Beberapa awak media melakukan penggalian data ke sekolah-sekolah di sekitar Desa Karangsono, yang menerima manfaat program strategis nasional. Didapat data yang cukup mengejutkan, bahwa siswa yang terdampak keracunan makanan MBG jumlahnya ratusan.
Koordinator kepala sekolah dasar setempat menyebutkan, siswa SDN Karangsono 1 hingga 4 yang mengalami gejala mual, pusing, muntah, sakit perut hingga kejang-kejang mencapai lebih dari 90 orang. Jumlah siswa 81 anak dan guru 10 orang. Belum termasuk sekolah sekolah dasar swasta.
Sedangkan data dari TK Dahlia Bangsalsari, seperti disebutkan oleh salah satu gurunya, dari 70 siswa yang terdampak makanan MBG hari itu mencapai 49 siswa. Termasuk anaknya sendiri.
Tidak hanya itu. Anak yang belum sekolah TK juga ikut terdampak. Seperti yang dituturkan oleh Muid, warga Desa Karangsono, Putri, nama anaknya ikut makan menu MBG pada hari kejadian. Istrinya mengambil makanan MBG di rumah kader posyandu, tetangganya sendiri yang tidak jauh dari rumahnya sekira pukul 09.00 wib.
Setelah tiba di sana makanan itu dipindahkan ke kotak makannya lalu dibawa pulang. Putri dan ibunya makan makanan MBG dengan menu nasi, tempe orek, telur puyuh, sayur sawi dan buah anggur pukul 11.00 wib. Menurut Muid, pengakuan istrinya menyebutkan telur puyuhnya agak berlendir. Tetapi tetap mereka makan.
Akibatnya Putri dan ibunya mengalami mual dan sakit perut pada sore harinya. Bahkan malam hari mereka tidak bisa tidur. Esok harinya mereka berobat ke Puskesmas Sukorejo.
Sejak kejadian itu Muid tidak memperbolehkan lagi anaknya makan MBG. Ia berharap ada evaluasi terhadap dapur SPPG di sana.






