Menu

Mode Gelap

Daerah · 13 Apr 2026 22:02 WIB ·

Dari Lumbung Pangan ke Bisnis Kos-Kosan, Alih Fungsi Lahan di Pringsewu Kian Brutal


Dari Lumbung Pangan ke Bisnis Kos-Kosan, Alih Fungsi Lahan di Pringsewu Kian Brutal Perbesar

PRINGSEWU (GS)– Laju alih fungsi lahan sawah produktif di sekitar kampus Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) kian tak terkendali. Di Pekon Tambahrejo, Kecamatan Gadingrejo, hamparan sawah yang semestinya menopang ketahanan pangan justru berubah cepat menjadi deretan bangunan kos-kosan tanpa izin yang jelas.

Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas pembangunan berlangsung masif. Sejumlah pengembang diduga nekat mendirikan bangunan di atas lahan yang masih berstatus sawah produktif.

Ironisnya, praktik ini terkesan dibiarkan, meski dampaknya nyata, menyusutnya lahan pangan, rusaknya sistem irigasi, hingga ancaman krisis lingkungan di tingkat lokal.

Klik Gambar

Kepala Pekon Tambahrejo, Supriyadi, mengakui fenomena tersebut. Ia bahkan menyebut pembangunan itu berjalan tanpa restu pemerintah desa.

Baca Juga :   Babinsa Kelurahan Serengan Koramil 03/Serengan Monitoring Gelar Expo dan Gelar Budaya

“Iya, lahannya masih sawah produktif. Selama ini kami tidak pernah memberikan izin, mereka bangun sendiri,” tegasnya, Senin (13/4/2026).

Lebih jauh, Supriyadi mengungkap dugaan adanya keterlibatan oknum aparat dalam proses penimbunan lahan sawah. Pernyataan ini memperkuat indikasi bahwa praktik alih fungsi lahan tidak berdiri sendiri, melainkan diduga dilindungi atau setidaknya ‘didiamkan’ oleh pihak tertentu.

“Mereka pernah datang ke saya, bilang sudah koordinasi dengan Camat, Danramil, dan Kapolsek. Jadi saya tidak bisa banyak bicara,” ungkapnya.

Baca Juga :   Puncak Peringatan Bulan K3 Nasional, Insan Maritim Provinsi Lampung di Kantor KSOP Kelas 1 Panjang Berjalan Lancar

Sementara itu, Camat Gadingrejo, Eko Purwanto, membantah adanya izin resmi yang dikeluarkan pihak kecamatan. Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada satu pun pengembang yang mengajukan perizinan.

“Belum ada yang mengajukan izin. Kami sudah pernah turun ke lokasi, menghentikan aktivitas, bahkan memasang banner larangan. Kalau dibiarkan, habis sawah kita,” tegasnya.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya ‘bermain’ di balik maraknya pembangunan ilegal tersebut. Ketika pemerintah pekon mengaku tak memberi izin, dan kecamatan menegaskan tak pernah menerima pengajuan, namun pembangunan tetap berjalan, indikasi adanya celah atau bahkan pembiaran semakin menguat.

Baca Juga :   Hengki Jazuli: "Kalau Tidak Bisa Jaga Marwah Wartawan, Jadi Loper Koran Saja"

Alih fungsi lahan yang tak terkendali bukan sekadar pelanggaran tata ruang. Ini adalah ancaman nyata bagi ketahanan pangan daerah.

Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Pringsewu akan kehilangan salah satu penopang utamanya, sawah produktif yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Kini, publik menunggu ketegasan aparat dan pemerintah daerah. Apakah praktik ini akan dihentikan, atau justru terus dibiarkan hingga sawah terakhir berubah menjadi beton. (Tim)

Facebook Comments Box

Artikel ini telah dibaca 35 kali

Baca Lainnya

Ketua FKWKP Soroti Laporan Advokat terhadap Wartawan : Dahulukan Mekanisme UU Pers

22 Juli 2026 - 19:27 WIB

Ketua IWO Pringsewu Kecam Dugaan Intimidasi terhadap Jurnalis: Ancaman Tak Boleh Bungkam Pers

9 Juli 2026 - 21:39 WIB

Gepak Desak KPU Pringsewu Buka Rincian Dana Hibah

8 Juli 2026 - 16:51 WIB

Transparansi Dana Hibah Pilkada Dipertanyakan, LPJ KPU Pringsewu Minim Rincian

7 Juli 2026 - 09:08 WIB

Disindir Soal Meritokrasi, Direktur Perumdam Way Sekampung Balas Sagang: “Jangan Asal Nuduh!”

4 Juli 2026 - 19:41 WIB

Sagang Nainggolan Soroti Pengelolaan PDAM Way Sekampung: “Jangan Harap Untung Jika Bukan Meritokrasi”

4 Juli 2026 - 03:27 WIB

Trending di Berita Terkini