Korwil Jatim Holiyadi
Jember, Gemasamudra.com – Warga Muhammadiyah Dusun krajan II Desa Padomasan Kecamatan Jombang Kabupatem Jember, berbondong bondong melaksanakan sholat Idul Fitri 1447 Hijriyah, di Lapangan Desa Padomasan. Hal ini dilaksanakan setiap tahun
Arkanuddin selaku Imam Sholat Idul fitri 1447 Hijriyah dan Khotib oleh Ust. Dr. Wahyudi Widada, M. Ked dengan tema ‘Kembali Sehat Sesuai Fitrah’ dia juga dosen di Universitas Muhammadiyah UNMUH Jember. Jum’at pagi. (20/3/2026)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha ilalahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd. Ust. Dr. Wahyudi Widada, M Ked. Berwasiat kepada dirinya juga jamaah sholat Idul Fitri, sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam Khotbahnya
“Hari ini kita merayakan Idul Fitri 1447 Hijriyah dan Allah berfirman ‘Ya ayyuhalladzina amanu kutiba alaikumush-syiyamu Kama kutiba alalladzina min qoblikum la’allakum tattaqun’ (QS. Al-Baqarah 183),”
Lanjut Khotib. Ramadhan telah mendidik kita untuk kembali kepada fitrah. Fitrah jasmani dan ruhani. Kita dilatih menahan diri, mengatur pola makan mengendalikan hawa nafsu juga menata ulang gaya hidup.
Rosullullah bersabda yang artinya. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah HR. Bukhori dan Muslim.
“Fitrah. Itu suci, lurus, alami. Maka Idul Fitri adalah momentum untuk kembali kepada pola hidup yang sesuai dengan fitrah, termasuk urusan kesehatan,”
Islam adalah agama yang menjaga lima tujuan utama, salah satunya adalah. Menjaga jiwa, menjaga jiwa bukan hanya menghindari pembunuhan, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh dari kebinasaan yang kita sebabkan sendiri. Ungkapnya
Allah juga berfirman. Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan (QS. Al-Baqarah 195) tambah Ust. Wahyudi Widada Khotib Sholat Idul Fitri.
Dalam konteks hari ini, kebinasaan itu berupa pola hidup tidak sehat, konsumsi makanan berlebihan, makanan instan, cepat saji, makanan ultra-proses yang merusak tubuh secara perlahan. Ucapnya
“Setelah sebulan penuh kita berpuasa, terbentuk pola hidup sehat, pola makan makan sehat, lambung kita beristirahat, pencernaan kita berisrirahat, pencernaan kita istirqhat, insulin kita istirahat, metabolisme kita tertata. Namun sering kali di hari raya kita ‘Balas Dendam’ makan berlebihan, makanan tinggi gula,lemak jenuh, jelantah berlebih, minuman manis, gula sintetis, pewarna, pengawet, penambah rasa pemutih serta makanan cepat saji praktis. Tetapi miskin gizi,”
Padahal Allah telah mengingatkan, dalam surat Al-Baqarah 156. Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada dibumi yang halal lagi baik.
Sambung Khotib. Bukan hanya halal, tetapi juga Thayyib atau baik, sehat bermanfaat. Makanan cepat saji dan makanan ultra olahan seringkali tinggi garam, gula, pengawet dan zat tambahan kimia. Secara fiqih mungkin halal, tetapi apakah itu baik bagi tubuh kita.
“WHO merekomendasikan batas gula tambahan maksimal kurang lebih 25 gram perhari untuk orang dewasa. Satu gelas boba saja sudah bisa melampaui batas itu,”
Rasulullah bersabda dalam HR. Tirmidzi. Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika harus, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya. Hadist ini adalah pedoman kesehatan luar biasa. Islam mengajarkan moderasi, keseimbangan dan pengendalian diri. Imbuhnya
Gaya hidup modern sering menjauhkan kita dari makanan natural. Kita lebih memilih makanan instan daripada makanan segar. Kitq lebih tertarik pada makanan tren luar negeri.
Islam tidak melarang kita mengenal budaya lain, tetapi Islam mengajarkan prinsip keseimbangan dan maslahat. Jika makan tersebut membuat kita lalai, berlebihan atau merusak kesehatan, maka kita perlu kembali pada prinsip fitrah. Makan alami sederhana dan tidak berlebihan. Jelas Khotib Sholat Idul Fitri 1447 Hijriyah.






