Korwil Jatim Holiyadi
Jember, Gemasamudra.com – Setiap lewat di Jalan Cendrawasih 27 Jember, saya melihat parkir kendaraan selalu padat. Bahkan di seberang jalan juga dipergunakan parkir bagi mereka yang hendak ke kantor Pengadilan Agama. Saya penasaran dan googling. Ternyata mencengangkan. Beberapa media arus utama menulis angka perceraian di Jember meningkat tajam. Pengadilan Agama Jember mencatat 2.211 perkara perceraian diterima sepanjang Januari hingga akhir Mei 2026.
Seorang Psikolog Jember Marisa Selvy Helphiana mengatakan faktor ekonomi bukan merupakan halangan jika mereka saling mengerti porsi tugas masing-masing. Sehingga, ekonomi ini jadi faktor kedua pencetus perceraian, yang pertama itu karena komunikasi.
Saya sepakat, sebab komunikasi dalam rumah tangga merupakan unsur utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Pernikahan bukan hanya ikatan lahir, tetapi juga batin yang harus dijaga melalui keterbukaan, saling pengertian, dan kejujuran. Jika komunikasi tidak sehat, sekecil apapun persoalan dapat berkembang menjadi konflik besar yang merusak keharmonisan keluarga.
Ontologi Cinta
Hakikat cinta, sesungguhnya dasar eksistensi manusia untuk mencintai dan dicintai. Cinta merupakan anugerah yang Tuhan titipkan pada setiap insan. Hadir tanpa diundang dan tumbuh tanpa diperintah. Oleh karena bersumber dari yang Maha Suci itulah, seharusnya cinta terjaga kesuciannya meski dari setitik nila. Jika tidak, cahaya cinta seketika akan meredup di kegelapan syahwat.
Rasa cinta bisa datang pada siapa pun, dan itu fitrah, tak berdosa. Tapi rasa itu akan menjadi berdosa jika direspon secara liar, melanggar norma, nilai dan moral seperti mencintai istri atau suami orang lain (dikenal pelakor dan pebinor). Cinta liar seperti ini juga berasal dari komunikasi, baik komunikasi verbal maupun nonverbal seperti tatapan mesra, perhatian, penampilan raga, dan harum parfum yang sengaja mengundang syahwat lawan jenis.
Cinta bukan hanya emosi, tetapi juga pemahaman terhadap kebaikan dan keindahan yang terpancar dari objek cinta. Dalam konteks komunikasi, ini berarti menyampaikan pesan dengan ketulusan hati demi kebaikan, bukan sekadar untuk memuaskan ego.
Komunikasi Cinta
Dalam konteks perkawinan, komunikasi lebih dari sekadar pertukaran kata-kata; ia merupakan jembatan emosional yang memandu perjalanan kehidupan rumah tangga. Banyak dari pasangan yang mengalami keretakan bukan karena kekurangan finansial, melainkan karena penggunaan kata-kata yang tidak tepat dan salah penafsiran. Oleh karena itu, setiap pesan seharusnya melewati tiga filter utama sebelum diucapkan: apakah benar, apakah baik, dan apakah bermanfaat.
Pertama, apakah benar?
Kejujuran adalah dasar dari cinta. Pernyataan yang benar akan membangun kepercayaan, sementara kebohongan sekecil apapun dapat menjadi racun dalam kehidupan rumah tangga. Kejujuran membuat pasangan merasa aman, dihargai, dan dihormati.
Kedua, apakah baik?
Kebenaran yang tanpa disertai kebaikan sering kali menyakitkan. Kata-kata dapat diungkapkan dengan cara yang menyakiti, atau sebaliknya, dengan kelembutan yang membangkitkan. Dalam ungkapan cinta, cara penyampaian memiliki sama pentingnya dengan makna pesan itu sendiri. Kebaikan membuat komunikasi menjadi lebih manusiawi, penuh kasih sayang, dan menyehatkan.
Ketiga, apakah bermanfaat?
Tidak semua yang benar dan baik harus diungkapkan jika tidak memberikan manfaat. Masalah ini mengingatkan kita untuk menimbang apakah pesan itu memperbaiki, mendukung, atau mengukuhkan ikatan kasih sayang. Keuntungan dari menyusun komunikasi ini adalah komunikasi akan lebih terfokus dan tidak menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak penting.
Jika berhasil melewati tiga tahapan ini, hubungan suami-istri akan menjadi lebih baik. Kata-kata tidak lagi berfungsi sebagai senjata yang menyakiti, melainkan sebagai doa yang menumbuhkan kasih sayang. Rumah tangga yang bahagia tidak hanya dibangun dengan cinta yang besar, tetapi juga dengan komunikasi yang tepat, baik, dan bermanfaat.
Komunikasi cinta memerlukan pertukaran hati. Bukan sekadar kata-kata manis atau janji, tetapi pesan-pesan halus yang membuat kedua pihak lebih kuat satu sama lain. Cinta yang sehat menumbuhkan keyakinan, menjaga martabat, dan memungkinkan pertumbuhan kebahagiaan bersama. Komunikasi cinta yang benar menurut Al-Ghazali adalah yang menjaga adab, menjaga kesucian hubungan, dan mengarah pada keridhaan Allah.
Akhirnya komunikasi cinta adalah sebuah seni sekaligus ujian. Ia dapat menjadi alat untuk menyebarkan kasih sayang yang halal dan mulia jika digunakan dengan benar. Namun, komunikasi cinta juga bisa menjadi perangkap neraka jika diarahkan pada hubungan terlarang seperti mencintai pasangan orang lain.
Penulis
Kaprodi Ilmu Komuniksi
Universitas Islam Jember






